Selasa, 23 Agustus 2016

Cara Merawat Burung Agar Istimewa

            Persoalan yang paling banyak dimunculkan dalam berbagai forum burung adalah bagaimana membuat burung yang tidak bunyi menjadi bunyi; bunyi jelek menjadi bagus; bunyi bagus tetap konsisten bagus. Hal ini sangat wajar karena tujuan utama yang dikejar para kicaumania dalam memelihara burung adalah bagaimana burung mereka bisa bunyi bagus. Ya, namanya saja “kicau (burung) mania” dan bukan “gaya (burung) mania” dan bukan pula “tarian (burung) mania”. Meskipun masalah penampilan juga sangat penting, khususnya untuk burung2 lomba, tetapi dalam hal ini saya lebih banyak berbicara dalam hal kicauan dulu. Lagi pula, kebanyakan gaya burung dalam bertarung relatif tetap dan relatif tidak bisa di-treatment untuk diubah.

            Kicauan burung sangat berkaitan dengan kesehatan sebagai variabel independen (yang mempengaruhi). Kesehatan ini ada dua; fisik dan mental, yang keduanya tidak bisa dipisahkan sama sekali. Sesehat apapun kondisi fisik burung, kalau terganggu kondisi mentalnya, maka kesehatan fisik langsung terganggu dan tidak akan pernah mau bunyi, apalagi bunyi bagus. Begitu juga kalau mentalnya bagus, maka ketika kondisi fisiknya terganggu, misalnya nglabrak2 dan pangkal paruhnya berdarah, maka akan menyebabkan burung tidak bisa tampil maksimal.
  1. Kesehatan fisik akan tercapai bila burung tercukupi dalam hal pakan (4 sehat, 5 sempurna), air dan sinar matahari.
  2. Kesehatan mental akan tercapai bila burung berada dalam kondisi “senang” dan tidak tertekan
Berkaitan dengan terpenuhinya 4 sehat 5 sempurna, maka pentinglah bagi burung untuk selalu disuplai makanan tambahan.
            Untuk burung dengan pakan utama serangga (MB, jenis2 kacer, dll) perlu diberi tambahan vitamin secara rutin dan terukur. Untuk jenis burung ini yang terbiasa diberi voor, bisa dipertimbangkan perlu tidaknya pemberian vitamin. Kalau dalam kemasan voor sudah tertulis bahwa voor tsb kaya akan kandungan vitamin, mungkin tidak perlu ada tambahan suplemen. Untuk burung2 yang tidak diberi voor (karena dikhawatirkan akan menurunkan kualitas suara) mutlak harus ditambah suplemen (khususnya vitamin).
Untuk burung dengan pakan utama berupa buah (jenis cucak misalnya), perlu diberi serangga secara teratur dan terukur. Untuk burung pemakan biji, perlu sering diberi serangga dan buah/sayuran. Kenari dan branjangan misalnya, perlu ada kroto dalam menu makanannya.
            Berkaitan dengan terpenuhinya sinar matahari (untuk pengubahan pro vitamin D menjadi vit D; mematikan jamur dan juga kutu), maka itulah perlunya penjemuran. Untuk sekadar alasan kesehatan (bukan treatment agar “ganas” dsb), penjemuran rutin cukup 30 – 60 menit di pagi hari.

KONSISTENSI
 `          Lebih penting dari semua hal di atas adalah masalah konsistensi dalam pemberian, baik dalam hal jadwal maupun takaran.
Pemberian pakan dengan jadwal yang tidak teratur, kadang diganti pagi, kadang sore; atau jumlah yang tidak teratur, kadang sesendok kadang tiga sendok, atau jenis pakan (misalnya voer) yang berganti-ganti, kadang merk A kadang merk B, membuat burung tidak stabil.
Berkaitan dengan masalah konsistensi inilah maka perlu kiranya bagi para kicaumania untuk menetapkan jenis, jadwal dan jumlah pakan bagi burung mereka yang dilaksanakan secara konsisten.
Misalnya Anda sudah menetapkan pola makan: pagi jangkrik 4 ekor, siang kroto sesendok, sore jangkrik 5 ekor plus cacing 2 ekor, maka konsisten saja itu dilakukan.
Demikian pula halnya dalam hal memandikan dan menjemur. Harus konsisten. Kalau burung Anda biasa dimandikan pagi, ya pagi terus. Kalau sore, ya sore terus. Kalau pagi-sore, ya pagi-sore terus. Kalau seminggu hanya sekali pada hari Minggu, ya seminggu sekali saja pada haru Minggu. Bukan menjadi seminggu dua kali hanya karena kebetulan pada pekan itu ada libur selain hari Minggu.
Kalau memang perlu ada perubahan maka hendaknya perubahan tidak dilakukan secara drastis dan konsisten menerapkan pola baru tersebut. Adakan perubahan secara bertahap. Untuk ganti merk pakan misalnya, maka campurkan saja pakan yang biasanya dengan pakan yang baru. Hari berikutnya, merk tertentu yang hendak dihilangkan, dikurangi porsinya sedikit demi sedikit, sampai pada akhirnya hanya voer pengganti yang kita sodorkan.
Tips dan trik menjaga kesehatan fisik:
  1. Jangan pernah iseng memberi pakan burung tidak pada jadwal waktunya  (misalnya ada jangkrik lepas, ya masukkan kandang jangkrik, jangan iseng diberikan ke burung yang ada di dekat Anda).
  2. Jangan iseng memandikan burung tidak pada waktunya (misalnya biasanya sepekan dua kali, menjadi setiap hari selama sepekan karena kebetulan pekan itu Anda libur atau cuti).
  3. Jangan iseng menjemur burung lebih lama dari biasanya untuk sesekali waktu, misalnya hanya karena Anda kebetulan sempat menunggui berlama-lama.
  4. Jangan iseng meniru-niru pola pakan dari kawan, jika Anda tidak yakin bisa konsisten untuk melaksanakannya.
  5. Jangan sampai kehabisan voor merk tertentu yang biasa Anda berikan ke burung Anda. Jangan terlalu yakin bahwa merk tertentu itu selalu tersedia di kios pakan burung langganan Anda (kecuali Anda mau repot muter2 ke kios lain).
  6. Tips (paling gampang dilaksanakan): Konsisten merawat burung secara tidak konsisten…(dengan risiko ditanggung sendiri…., hehehehe).
Tips dan trik menjaga kesehatan mental burung:
1.      Biasakan diubah2 tempat gantungannya di tempat2 yang relatif ramai orang, gaduh, berisik.
2.      Jangan diubah2 posisi tempat pakannya.
3.      Jangan diubah2 bentuk dan ukuran tempat tenggeran/tangkringannya.
4.      Biasakan burung dengan kerodong, topi, payung dan lain-lain, dengan warna yang beragam.
5.      Biasakan dipertemukan dengan burung lain (baik sejenis maupun lain jenis). Catatan: Jangan lama2, kalau Anda belum yakin dengan kondisi mental si burung.
6.      Biasakan dibawa bepergian (entah pakai mobil ataupun motor) entah untuk tujuan lomba, latber, atau sekadar muter2 kota. Misalnya Anda main ke rumah kawan dan tidak merasa repot, bawa saja burung Anda meskipun di sana hanya digantung sendirian, sementara Anda ngobrol.
7.      Milikilah burung sejenis sebagai sparring partner atau “unthul” (bahasa Jawa, bahasa Indoensia-nya apa saya tidak bisa memilih kata yang pas) dengan kualitas mental yang jeblok, untuk selalu “dilabrak” oleh burung andalan kita. Ini seperti kalau kita punya ayam bangkok petarung, maka kita perlu ayam jago lainnya (biasanya ayam lokal) yang kualitas tarungnya jelek dengan tugas “menerima pukulan” bangkok jagoan kita. Ini bertujuan meningkatkan mental burung dengan cara memberi perasaan bahwa dia adalah burung “menangan” (padahal musuhnya-lah yang jelek, hehehe bo’ongi saja biar dia pede).

Catatan A:
            Burung-burung yang sangat sensitif terhadap perubahan pakan, perawatan dan lingkungan:
1.      Jenis kacer/anis (AM, AK, kacer)
2.      Jenis cucak (terutama CR dan CI/CH).
Catatan B:
            Untuk konsistensi bisa diabaikan ketika Anda men-treatment burung dalam proses ngurak/ bodol/ mabung karena untuk burung2 tertentu kadang diperlukan treatment khusus yang sama sekali berbeda
Burung perlu medical/behavior record
            Berkaitan dengan masalah konsistensi ini, perlu kiranya setiap burung memiliki medical/behavior record. Tentu ini sekadar catatan kesehatan dan perilaku yang kita tulis secara sederhana. Dalam record itu antara lain terdapat catatan tentang pola makan, pola mandi/jemur, design/pola kandang dan tangkringannya. Record itu kalau bisa ditempel di tempat yang terlihat sehingga siapa saja yang merawat burung itu akan menanganinya dengan pola yang sama. Kalau Anda punya satu dua burung, mungkin tidak bingung ketika Anda pergi dan meninggalkan burung pada perawat khusus/orang lain. Coba saja Anda punya burung lebih dari 10, maka konsistensi perawatan akan kurang terjamin, apa lagi kalau Anda mau mengoperkan perawatan kepada orang lain.
            Inilah sesungguhnya yang terjadi, mengapa selama ini banyak orang yang kecewa karena burung yang mereka beli tidak sebagus ketika masih ada di tangan pemilik sebelumnya, misalnya. Jadi kalau Anda beli burung bagus, tanyakan secara detil bagaimana perawatannya, bukan sekadar pada pola pakan, tetapi juga pada pola mandi/jemur, pola sangkar dan detail dalamnya, serta kebiasaan2 lain yang membuat burung dalam kondisi happy (trauma pada benda2 tertentu, bisa membuat burung macet bunyi ketika melihat benda2 sejenis).
            Di dalam record itu, juga perlu ada catatan tentang pola perawatan insidentil. Misalnya saja, ada catatan detail pola perawatan ketika mau turun lomba/latber, sebab banyak yang memberikan pola makan berbeda ketika dalam kondisi biasa dan kondisi akan dilombakan/dilatberkan. Bisa saja ketika mau ditandingkan, biasa ditambah porsi pakan A-nya dan dikurangi porsi pakan B-nya, atau malah diberi pakan C yang tidak pernah diberikan secara harian, dan sebagainya.
Sebagai penutup tulisan ini, saya berikan catatan dalam huruf kapital: SEKECIL APAPUN PERUBAHAN DALAM POLA PERAWATAN AKAN BERPENGARUH, BAIK POSITIF ATAUPUN NEGATIF, PADA KONDISI KESEHATAN (FISIK DAN/ATAU MENTAL) BURUNG.
Sekian dan semoga bermanfaat.

Kamis, 11 Agustus 2016

Zaman Makin Edan, Kalau Gak Edan Gak Kebagian




                Dunia seakan dibolak balik, pilih ini dan itu harus menggunakan intrik. Trik dan licik jadi bahan utama orang saat ini hidup, kong kalikong adalah umpan jitu untuk bisa makan. Hari ini makan dengan siapa besoknya lagi makan dimana dan setelah itu makan siapa. Semua itu adalah rumus kehidupan yang selama ini terjadi, tidak dapat dipungkiri ada istilah teman makan teman, teman makan pagar hingga akhirnya sampai muncullah istilah “zaman makin edan kalau gak edan gak kebagian”.

                Demi harta dan tahta dapat dicapai dengan banyak segala cara, yang kawan bisa jadi lawan dan yang lawan bisa jadi kawan. Hidup bagaikan korban busung lapar yang menghalalkan apa saja yang dilihat, mata bisa melotot mulut menganga seperti orang kelaparan jika melihat merah dan birunya selembar kertas. Kepentingan, lagi-lagi kepentingan, katanya untuk rakyat toh nyatanya banyak yang berkhianat. Sementara ini yang ada dalam benak fikiran saya adalah mengapa kita dijajah oleh nafsu sendiri?? Silahkan ini diangan!!

Rabu, 27 Juli 2016

Lestarikan Permainan Tradisional Lewat Teater



                Mejobo Gayeng, itulah tema yang diselenggarakan oleh team panitia EXPO KKN UNDIP di halaman kantor kecamatan desa Mejobo. Semangat keceriaan dipersembahkan oleh anak-anak kampoeng pintar mejobo yang mampu membius para penonton dengan kocakan ala anak kampung.  Pertunjukan permainan tradisional yang diiringi dengan lagu dolanan itu mampu menyita banyak perhatian terutama bagi mereka para tamu undangan, terlebih mereka yang datang dari luar jawa. kekayaan  daerah harus bisa kita perkenalkan kepada mereka karena ini bagian dari nilai pengetahuan dan edukasi luhur khususnya di tanah jawa.

Dengan persiapan yang hanya dua minggu menjadi tugas berat bagi anak-anak, karena pentas tersebut adalah untuk kali pertamanya. Berkat rasa semangat anak-anak maka pentas tersebut akhirnya berjalan dengan lancar. Sengaja mengusung tema tentang permainan tradisionanl adalah selain sebagai edukasi juga keinginan kampoeng pintar mejobo untuk bisa bersama-sama melestarikan budaya tersebut, karena semakin berkembangnya zaman permainan ini banyak yang dilupakan. Anak-anak sekarang sudah lupa dengan nyanyian seusianya, lagu dolanan yang syarat akan nasihat kini sudah ditelan oleh zaman. Lagu gundul-gundul pacul misalnya, lagu ini memang sangat sederhana, akan tetapi jika kita mampu mengulas maka banyak makna yang terkandung didalamnya. 
Tidak hanya itu saja, masih ada lagu-lagu yang lain seperti cublak-cublak suweng, jamuran, jaranan dst yang kini juga banyak anak yang tidak hafal dengan nyanyian itu. Anak-anak kini lebih asik dengan tontonan TV yang hanya menjadi tontonan dan bukan tuntunan, maka tidak bisa dipungkiri jika ada anak yang berani melawan orang tua, malas untuk belajar, banyak tawuran dan kekerasan. Kita sebagai bangsa yang kaya budaya seyogyanya malu melihat kondisi tersebut, kini setidaknya masih ada kesempatan agar dapat memperbaiki hal tersebut dengan cara mengenalkan budaya luhur kepada anak-anak hingga akhirnya mampu menciptakan budi pekerti yang baik.

Muhammad Jamalludin @Kampoeng Pintar Mejobo

PANCASILA, ANTARA TEORI DAN APLIKASI




            Nampaknya memang mudah sekali kita menghafal pancasila dari sila pertama hingga sila ke lima. Bagaimana tidak, kita di perkenalkan mulai sejak dini tentang pancasila. Masih ingatkah kita tentang empat pilar bangsa?  Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika yang kini sudah mulai terkikis di era globalisasi. Tidak hanya itu, para aparatur negara pun terkesan lupa tentang hal tersebut. Hingga akhirnya yang terjadi adalah korupsi makin merajalela di negara kita. Bicara tentang pancasila, kita memang hafal pada  lima sila, bahkan itu serasa hafal di luar kepala.
Jika kita ditanya sila pertama dan seterusnya kita mampu untuk menjawabnya, namun yang di inginkan apakah hanya sekedar hafal? Tentu tidak, yang jelas adalah kita mampu untuk bisa mengamalkan semua nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sudah seyogyanya selain hafal juga mampu menanamkan itu dalam diri di kehidupan sehari-hari, kita tahu makna dari masing-masing sila yang ada dalam pancasila.
Bagaimana kita berketuhanan yang Maha Esa dan bukan keuangan yang maha kuasa, berkemanusiaan yang adil dan tentu tidak biadab, bagaimana kita mampu bersatu dan tidak menjadikan perseturuan, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, bukan kerakyatan yang dipimpin oleh kepentingan dalam permusyawaratan persekongkolan, juga bukan kesenjangan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
            Dengan semakin terlupakannya nilai-nilai Pancasila, pada saat sekarang ini kita banyak menghadapai permasalahan-permasalahan bangsa, salah satunya korupsi. Banyak sekali perbedaan yang ada di negara kita, akan tetapi sekeras atau setajam apapun perbedaan yang terjadi jangan sampai mengoyak persatuan, namun saat sekarang ini, itu yang banyak terjadi. Dan itu harus disikapi dengan kearifan. Guru di kelas harusnya juga ikut berperan aktif pada peserta didik untuk bisa mengaplikasikan lima nilai pancasila. Minimal guru bisa memberikan contoh tindak tanduh atau adi luhung yang nantinya akan di gugu dan di tiru oleh peserta didik.
   Dengan memahami dan juga mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila dalam kehidupan sehari-hari, maka kita semakin mencintai dan memahami tentang bangsa ini. Seandainya saja tidak memahami nilai-nilai kebangsaan, bisa saja nantinya bangsa ini bisa dijual.
Maka jika sudah terjual, berarti kita sudah tidak lagi mengormati jasa-jasa pahlawan terdahulu, serta sudah menjual sejarah bangsa. Betapa ironis jika melihat kehormatan bangsa ini direbut oleh bangsa lain, dan sudah saatnya kita pertahankan nilai serta sejarah bangsa.

Oleh : Muhammad Jamalludin (Kampoeng Pintar Mejobo)